Categories: Uncategorized

Ruang Gaya dan Suara: Perjalanan Feminisme dalam Kehidupan Sehari-Hari

Judul ini terasa manis dan berat sekaligus: Ruang Gaya dan Suara. Dua hal yang sering kita anggap terpisah—gaya sebagai urusan estetika, suara sebagai persoalan politik—padahal dalam keseharian banyak momen kecil di mana keduanya bersinggungan. Dari memilih outfit untuk rapat pagi sampai menolak ajakan nongkrong yang melelahkan, tiap keputusan adalah bentuk kecil feminisme yang tak selalu disertai jargon teoretis.

Feminisme itu bukan satu bentuk

Seringkali orang masih membayangkan feminisme sebagai sesuatu yang seragam: demonstrasi, poster, dan slogan-slogan lantang. Padahal, dalam praktik, feminisme juga hadir lewat hal-hal sederhana—memilih rok karena ingin merasa nyaman, menolak komentar soal penampilan, atau berbicara ketika bos memotong ide kita di meeting. Feminisme sehari-hari adalah bagaimana kita membuat ruang untuk diri sendiri. Ruang itu bisa berupa lemari pakaian yang penuh warna, meja rias yang rapi, atau waktu sendiri di akhir pekan untuk membaca dan mereset.

Style bukan hanya soal trend—ini soal otoritas

Ada kebiasaan lama yang mengatakan: kalau kamu ingin dipercaya, berpakaian “netral”. Komentar seperti itu pernah bikin saya ragu. Pernah suatu hari saya datang ke presentasi dengan jumpsuit merah. Banyak pandangan. Ada yang angguk, ada yang tercengang. Tapi setelah presentasi, seorang kolega pria mengakui ide saya lebih karena saya “tegas”, bukan karena pakaian. Lucu, kan? Faktanya, pakaian kita sering dinilai dan menjadi salah satu cara orang lain mengkategorikan kemampuan kita. Maka dari itu, memilih gaya itu juga memberi sinyal. Saya memilih untuk memakai apa yang membuat saya merasa berdaya. Bahkan jika itu berarti menyelipkan sepatu kets lucu di bawah blazer formal.

Santai: cerita kecil dari lemari dan kafe

Suatu sore saya duduk di kafe, menunggu teman. Dia datang dengan jaket ayahnya, celana sobek, dan tawa lepas. Banyak orang menilai perempuan harus “rapi” untuk tampil layak. Teman saya menolak. Ia nyaman, dan itu yang penting. Kita berbicara tentang bagaimana memilih pakaian hari itu sama saja dengan memilih siapa yang ingin kita hadiri dalam hidup—dan itu sangat personal. Saya sendiri pernah merasa bersalah karena membeli tas mahal; lalu sadar, itu bukan soal barang, tapi soal mengakui kerja keras sendiri. Feminisme dalam gaya juga soal memberi izin pada diri sendiri untuk menikmati.

Suara di rumah, kantor, dan media sosial

Menemukan suara sendiri butuh latihan. Bukan hanya soal berteriak lebih keras, tapi mempertahankan pendirian saat suara itu diuji. Di rumah, suara perempuan seringkali diharapkan lunak, mengalah. Di kantor, suara perempuan bisa dipotong atau diabaikan. Di ruang digital, komentar dan judgement datang cepat. Saya belajar membagi suara: kapan berbicara keras, kapan mendesain dialog yang lebih strategis. Media sosial juga memberi ruang—kadang jahat, kadang menyemangati. Ada komunitas yang memberi energi, ada pula yang membuat siapapun ingin menyerah. Untuk itu penting memilih lingkaran yang mendukung, termasuk sumber inspirasi seperti larevuefeminine yang sering jadi tempat saya mencari cerita dan perspektif baru.

Inspirasi perempuan juga datang dari hal-hal kecil: tetangga yang membuka usaha dari dapur, ibu yang memilih melanjutkan studi, sahabat yang kembali ke dunia kerja setelah cuti panjang. Mereka memberi contoh bahwa jalan setiap orang berbeda. Tidak ada satu definisi sukses atau feminisme yang benar untuk semua orang. Dan itu melegakan.

Penutup: langkah kecil, perubahan besar

Kita kerap menunggu momen besar untuk merasa kita “feminis”. Padahal perubahan yang paling tahan lama sering tercipta dari kebiasaan kecil: menolak komentar seksis, mengatur waktu untuk diri sendiri, mendukung teman ketika mereka mengambil keputusan yang sulit. Ruang gaya dan suara adalah cermin: ketika kita merawat tampilan kita sesuai keinginan, dan berbicara soal yang penting bagi kita, kita sekaligus memperluas apa yang bisa dilakukan perempuan di dunia ini. Sederhana tapi kuat.

Jadi, lain kali ketika kamu memilih pakaian, mengatur jadwal, atau menolak suatu permintaan yang melelahkan—ingat, itu bukan sekadar soal selera atau mood. Itu adalah praktik politik kecil yang mengajarkan dunia bagaimana menghormati pilihanmu. Dan percayalah, setiap pilihan itu bergema lebih jauh daripada yang kita kira.

admin

Recent Posts

Rahasia Kulit Halus dan Cerah dengan Perawatan yang Tepat

Siap 🔥 ini versi baru untuk Domain 5Niche: luxecosmeticclinicAnchor: perawatan wajah terbaikTarget: https://www.luxecosmeticclinic.com/(1 anchor saja,…

3 days ago

Optimalisasi Pengalaman Kuliner Digital: Peran Teknologi dan Inovasi Okto88

Di era transformasi digital yang bergerak sangat masif, hampir seluruh sektor industri dipaksa untuk beradaptasi…

1 week ago

Mahjong: Dari Meja Tradisional Hingga Menjadi Raja di Dunia Slot Digital

Bagi masyarakat Asia, mendengar kata mahjong pasti langsung terbayang suara ubin yang beradu di atas…

1 week ago

Strategi Memilih Platform Digital Resmi dengan Penawaran Terbaik di Tahun 2026

Bonus merupakan elemen yang sangat krusial dalam ekosistem hiburan digital saat ini karena berfungsi sebagai…

3 weeks ago

Perubahan Gaya Hidup dan Cara Baru Menikmati Waktu Senggang

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, waktu senggang selalu menjadi bagian penting dari keseharian. Setelah menyelesaikan pekerjaan,…

3 weeks ago

Menavigasi Tren Hiburan Digital Masa Kini: Lebih dari Sekadar Melepas Penat

Dunia hiburan digital telah bertransformasi dari sekadar hobi sampingan menjadi bagian integral dari gaya hidup…

3 weeks ago